Tak Apa, Namanya Juga Perjalanan Hidup

Selamat pagi, Key.
Mentari mati sepagi ini. Sebab ketika aku membuka mata, tak kutemukan siapa-siapa. Dan aku hanya sendiri. Di kekosongan yang abadi.


Bagaimana langitmu? Masihkah biru melingkupi semestamu? Meniadakan sendu yang tega membuatnya kelabu. Masihkah mentari bersinar dengan gagah? Mengenyahkan mendung dengan sinarnya yang menggugah.


Maafkan aku yang agak melankolis pagi ini. Membaca suratmu semalam, aku seperti beku dalam dinginnya kenyataan. Benar seperti katamu, kejutan tak selalu menyenangkan. Mengetahui bahwa kau sudah ada yang memiliki membuat hatiku yang kujaga baik-baik ini menggigil oleh keharuan perasaan. Seketika, sunyi mengetuk hati pelan-pelan.


Tapi, aku tak akan banyak-banyak membahas ini. Buat apa aku kecewa, karena bagiku itu biasa. Baik-baiklah dengan kekasihmu. Biarkan aku menjadi sekadar teman -yang katamu- menemani saat kau merasa kesepian, pelipur lara bagi setiap sendu sedihmu. Sebab dengan itu saja, sudah membuat aku bahagia. Tak perlulah kau meminta maaf, sebab tujuanku sejak pertama mengirimimu surat hanyalah ingin dekat denganmu. Sebagai siapapun. Cukup.


Engh.. hai, anyway, aku sudah membaca ceritamu perihal catatan perjalanan yang dituliskan ayahmu. Rasa-rasanya aku sudah tak sabar untuk membacanya dengan segera. Bolehkah aku meminjamnya? Jika kau takut catatan itu rusak, kau bisa merekamnya dalam bentuk foto. Lalu kau selipkan di suratmu berikutnya, itu pun kalau kau tak merasa kerepotan. Pssst.. tenang, aku akan menjaga kerahasiaannya, jika memang kau ingin simpan catatan itu sebagai rahasia.


Terima kasih atas sanjunganmu tentang dongeng gunung dan awan yang sempat kuceritakan, sebenarnya itu hanyalah dongeng rekaanku saja, kau tak akan menemukannya dalam buku dongeng mana pun. Kau adalah orang pertama yang mendengarnya. Jangan kau ceritakan pada siapapun, nanti cerita itu diambil oleh orang-orang yang patah hati sebagai pembenaran sikapnya untuk membenci orang yang mengabaikan rindunya. Hahaha.


Ah, iya. Sore kemarin, aku jadi ke perpustakaan daerah. Aku duduk di sudut ruang perpustakaan bagian fiksi terjemahan. Membaca buku sambil mendengarkan lagu yang mengalun dari earphone yang menempel di telingaku. Sambil beberapa kali menoleh ke pintu masuk, barangkali kau benar datang untuk menjumpaiku. Kau tahu? Aku masih di sana hingga petugas menyuruhku pulang karena perpustakaannya akan segera tutup. Aku masih berharap kau datang saat itu meski terlambat. Rasa-rasanya harapanku terlalu besar, ya? Tapi tak apa, toh sebenarnya kau ingin berjumpa, hanya saja tugas kuliah memasungmu hingga tak bisa pergi ke mana-mana, benar kan? Mungkin lain waktu, kita bisa mengatur pertemuan berikutnya.


Di perpustakaan kemarin, aku membaca buku Paulo Coelho yang berjudul Seperti Sungai yang Mengalir, Buah Pikiran dan Renungan, judul asli buku ini adalah Ser Como O Rio Que Flui. Apa kau sudah membacanya? Buku setebal 303 halaman itu berisi kisah-kisah menggugah dan perenungan atas perjalanan hidup.


Jika hidup adalah laiknya aliran sungai, bagaimana caranya mengalir? Haruskah hanyut dalam riaknya dan tenggelam hingga ke dasarnya? Atau -bisakah kita menentang arusnya- seperti yang biasa kita dengar dari pepatah lama, berakit-rakit ke hulu, -meski harus dengan sakit-, lalu berenang ke tepian. Namun, bagaimana bila kita hanyut dan tenggelam hingga ke dasarnya, dapatkah kita menemukan keindahan yang tersamar di permukaannya?


Melalui buku itu, Paulo Coelho akan menuntun kita, bagaimana cara berenang tanpa harus menjadi arus. Hidup sedang mengajak kita mengalir dengan sepenuh sadar menuju jalan cahaya. Kita pun dituntun bagaimana tabahnya seorang ksatria menemukan jiwanya. Jika kau belum membaca bukunya, aku merekomendasikan itu untuk kau baca.


Bagaimana, Key?

Apa aku sudah seperti biro iklan yang piawai dalam menawarkan buku untukmu? Hahaha


Bagiku, dalam hidup ini, kita dipersiapkan untuk menjadi perenang ulung atas arus kehidupan yang telah Tuhan persiapkan. Menelusuri setiap lekuknya dengan antusias dan sebaik-baiknya. Menaiki arus yang kita ciptakan sendiri sebagai takdir hidup yang kita pilih untuk dijalani dan ditelusuri. Hingga kemudian bisa sampai ke tepian -kematian- sebagai seseorang yang bercahaya wajahnya oleh sebab tersenyum telah mencapai titik akhir dengan selamat dan berbahagia.


Sebagaimana yang aku lakukan, terhadapmu. Menelusuri setiap lekuk perjalanan hidup dengan bahagia dan antusias. Menyapa, bertanya, bercerita, berbagi pemahaman dan makna bersamamu, -melalui surat ini, tentu saja. Meski aku tak pernah tahu, akan bagaimana kita. -pada akhirnya. Bukankah hidup adalah tentang keberanian menghadapi tanda tanya?


Lalu, bagaimana arti hidup menurutmu, Key?



Dari lelaki yang belakangan ini mengusik hari-harimu.

Al.

1 komentar:

Kategori Utama