Putri Keyla dan Lelaki Bertudung Hitam #2

Selamat siang, nona.

Pendongeng kembali. Izinkan saya meneruskan lagi cerita yang sempat tertunda. Kau duduklah diam-diam dan tenang. Saya akan menceritakannya lagi pelan-pelan.


-------------

Tirta dan Keyla menikmati kebersamaan mereka dengan mesra. Belajar saling mengenal dan memahami seperti yang dititahkan ayah Keyla.

Hingga suatu hari..

Kerajaan membutuhkan pangeran Tirta untuk berlayar menjual hasil tambang dan pertanian rakyat wilayah kerajaan ke kerajaan lain.

Keyla dengan berat hati melepas Pangeran Tirta untuk pergi berlayar. Dengan harapan Pangeran Tirta dapat menjaga perasaannya. Sebagaimana kesetiaan Putri Keyla dalam menunggunya pulang kembali.

Pangeran Tirta mengarungi laut dengan sangat baik. Meski sesekali badai datang menghantam kapal miliknya, tapi kapal tersebut masih dapat membelah lautan dengan tangguh. Sesampainya di kerajaan tujuan, kapal kerajaan Tirta menepi dan menjatuhkan jangkar kapalnya di dermaga.

Kerajaan yang dituju Pangeran Tirta adalah sebuah pulau yang dikelilingi lautan. Pantainya indah, berpasir putih dengan air laut jernih. Tepian pantai dihiasi nyiur yang melambai-lambai. Sesekali terlihat kepiting dan penyu yang sedang bermain-main di antara gundukan pasir.


Pangeran Tirta menyelesaikan sapuan pandangannya dari pantai, lalu mulai mengemasi barang-barang bawaan untuk kemudian dibawa oleh anak-anak kapal. Tujuan langkah mereka selanjutnya adalah istana kerajaan.

Keluarga istana kerajaan menyambut mereka dengan antusias. Ini kali pertama bagi kedua kerajaan.
"Saya Pangeran Tirta, utusan dari kerajaan seberang. Bermaksud membawakan pesanan bahan tambang dan pertanian."

"Ah, anakku. Terima kasih sudah membawakan pesanan kami. Sebelum itu, mari istirahat dulu. Kami sudah siapkan makanan terbaik untuk keluarga dari negeri seberang," ucap sang Raja kerajaan Bahari.
Makanan yang dihidangkan adalah ikan bakar dengan saus tiram, ayam panggang, buah-buahan segarDan beberapa gelas minuman anggur yang menggoda tenggorokan.


Tanpa berpikir lebih panjang, Pangeran dan beberapa ajudan kerajaan mulai menyantap hidangan dengan lahap. Pada santapan yang keempat, pandangan mata pangeran tertambat pada satu sosok yang berada di hadapannya. 
Ia baru menyadari, ada seorang putri kerajaan berada di hadapannya sedang tersenyum dan memperhatikannya. Wajahnya teduh dengan garis muka yang lugu. Pangeran Tirta salah tingkah. Lalu pelan-pelan kembali menyantap hidangannya.

"Wahai pangeran Tirta. Perkenalkan, ini putri kami, Putri Bahari."
"Engh.. Engh.. Iya paduka Raja." jawab Tirta tersedak.


Di tempat lain, Putri Keyla sedang duduk terdiam di taman kerajaan. Menerawang ke atas langit. Harap-harap cemas menunggu kepulangan pangeran. Kupu-kupu hinggap di jemari Putri Keyla. Seolah menghibur kegundahan hati Putri Keyla.

------


"Putriku, ajaklah Pangeran Tirta berkeliling kerajaan kita. Tunjukkan padanya keindahan yang dimiliki oleh negeri kita," ucap paduka Raja seusai perjamuan santap siang.
"Baik, ayah."


Lalu melangkahlah Pangeran Tirta dan Putri Bahari ke luar istana. Putri Bahari mengajak pangeran berkeliling ke wilayah kerajaannya, menemui kehidupan masyarakat, dan berakhir di pantai terindah yang dimiliki kerajaan Bahari.


Saat itu senja hari. Matahari membenam dilalap petang. Jingga keunguan menyemburat di atas langit. Angin berhembus lirih, bertiup sayup-sayup menjadi simfoni pengiring kebersamaan. Jemari mereka sudah bertautan sejak menjejakkan kaki di pasir pantai. Seiring matahari menghilang, mereka pun berciuman.

Putri Keyla tersedak air putih yang diminumnya. Tiba-tiba menangis oleh perasaan rindu yang begitu menggebu. Inginnya satu, Pangeran Tirta pulang merentangkan pelukan. Sudah berminggu-minggu pangeran Tirta berlayar dan belum memberi kabar. Melebihi jadwal yang sudah ditentukan. Dadanya sesak oleh perasaan resah yang tak bisa diatur. Kesabarannya seluas kebesaran hatinya. Tapi tenang belum juga bisa diredakan.
-----

Pangeran Tirta menikmati harinya yang indah bersama Putri Bahari. Aktivitas barunya adalah berkuda di tepian pantai bersama Putri Bahari. Menikmati keindahan yang tertawar dari debur ombak yang memecah karang-karang, dan burung yang berterbangan membelah langit senja.

Suatu hari, ajudan memberanikan diri untuk menyapa pangeran.
"Paduka pangeran, ini sudah melebihi batas waktu. Sebaiknya kita segera pulang." ucap ajudan pelan.
"Baiklah, lusa kita kembali ke kerajaan. Kemasi barang-barang dan siapkan kapal untuk berlayar."
Ini sudah minggu kedelapan sejak kepergian pangeran. Dan Putri Keyla
 masih setia menunggunya pulang dengan duduk diam di tamanBerteman bunga-bunga yang bermekaran beraneka ragam, juga kupu-kupu warna-warni yang berterbangan.


Keindahan yang tertawar di hadapannya tak mampu meredakan geliat resahnya. Seolah ia berada dalam padang gersang yang begitu terik hingga kerongkongannya kering. Rindu telah sampai ke tenggorokan. Dan debar resah begitu sesak memenuhi rongga dadanya.

Rindu terkadang begitu bengis. Sangat tega mencipta air mata hanya untuk mendamba sua.

Namun rindu begitu hebat. Membuat kesetiaan tetap terjaga rapat-rapat.
-----
Pada perjamuan terakhir di negeri Bahari, pangeran mengucap pamit kepada raja Bahari.
"Yang mulia raja, kami harus kembali berlayar. Terima kasih atas sambutan hangat dan jamuannya yang begitu ramah. Akan kami ceritakan kebaikan kerajaan Bahari kepada rakyat kami."
"Wahai pangeran, janganlah sungkan. Ini sudah kewajiban kami untuk menyambut tamu dengan baik. Jangan ragu untuk kembali. Kami membuka pintu lebar-lebar."


Selepas perjamuan, pangeran Tirta bersiap ke luar istana. Putri Bahari mengikutinya dengan wajah tertunduk.

Di ambang pintu istana, pangeran Tirta menghentikan langkahnya. Lalu membalikkan badan berhadapan dengan Putri Bahari.
"Jangan cemas, nona. Aku akan kembali. Aku mencintai kamu." mereka berpelukan, lalu melakukan ciuman terakhir sebelum perpisahan. Kali ini lebih hangat dan lembut dari yang sebelumnya. Mata mereka terpejam, membiarkan tenang dan mesra merasuk dada pelan-pelan.

 

Putri Bahari melepas pelukan. Ia tak ingin menangis lebih lama.

"Silakan pergi, tuan. Asal membawa serta kenangan dan ingatan tentangku. Hingga dengan seberkas senyum, engkau kembali dan menemuiku lagi."
"Tenanglah, Putri Bahari. Kau menantilah dengan tenang. Aku akan kembali. Bahkan sebelum kau sempat merinduiku lagi." ucap pangeran Tirta sambil mengecup kening Putri Bahari.
Dengan berat hati, pangeran Tirta melangkahkan kaki. Lalu berjanji dengan hatinya sendiri untuk kembali lagi.


Pangeran Tirta beranjak menuju dermaga.
Layar kapal membentang. Jangkar perlahan dinaikkan. Kapal kembali berlayar pulang.



------------

Ah, kau pasti bertanya-tanya, nona. Bagaimanakah kisah selanjutnya.

Bersabarlah sebentar, setelah ini saya akan menceritakannya lagi. Persiapkan dirimu, sendu tak pernah memberi kabar kapan akan mengetuk pintu untuk mengusik bahagiamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kategori Utama