Keyla Agnita Anastashia

Aku mengerti, Keyla.
Aku sungguh paham.
Dari suratmu kemarin, aku cukup tahu bahwa kau menolakku karena aku terlalu tampan untukmu. Aku terlalu keren bagi kebanyakan orang. Kau takut apabila karena ketampananku sedang kau tengah memilikiku, kau harus sibuk menata hati sendiri untuk tetap merasa baik-baik saja saat banyak perempuan lain yang memujaku. Kau khawatir bila harus menahan cemburu yang terlalu karena...ya..kau tahu sendiri, banyak perempuan lain yang tak henti-hentinya mencari perhatianku. Mulai dari menitip salam, mengirim surat, atau bahkan bagi yang lebih niat caper, mereka membuatkanku makanan atau membelikanku hadiah.

Namun, Keyla. Bila karena ketampananku ini membuatmu khawatir dan takut, kau harus segera sadar bahwa kau tak butuh gravitasi untuk membuatku jatuh. Kau tak butuh labirin berliku untuk membuatku tersesat ke dalammu. Kau tak perlu banyak mencari perhatian untuk menjadi pusat galaksi duniaku. Mungkin buatmu berlebihan, tapi kau sangat tahu tentangku. Aku tak mungkin sebegitunya memuji perempuan bila itu bukan seseorang yang benar-benar membuatku jatuh cinta (kau harus tahu bahwa untuk menuliskan ini, aku sudah menekan hebat-hebat rasa gengsi kelaki-lakianku).

Tujuh tahun persahabatan memanglah bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal dan memahami sifat masing-masing, Key. Bagi otak dan kepalaku yang lebih cerdas beberapa cc darimu ini, aku sudah lebih dulu berpikir dan memperhitungkan apa-apa yang kau khawatirkan. Maka, izinkan aku meyakinkanmu kali ini, Key.

Jarak membentang antara Bandung dan Jogjakarta membuatku makin tersadar bahwa aku selalu ingin berada di dekatmu. Pada awalnya aku mengira bahwa ini hanya perasaan rindu yang biasa saja. Mungkin sebatas kangen karena tak ada lagi orang yang mau dengan ikhlas menjadi objek kejailanku semata. Tapi, toh ya namanya juga perasaan, sekuat apapun aku berpura-pura pada akhirnya aku menyerah juga. Memaknai setiap perasaan yang meletup-letup di dalam dada sebagai cinta.

Keyla, usah takut dan ragu. Persahabatan menjadi cinta bukanlah hal baru apalagi tabu. Kita akan tetap biasa-biasa saja, menjadi partner yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Bukankah menyenangkan memiliki partner yang tak hanya menjadi teman hati yang berbagi perasaan, tetapi juga sahabat dan musuh terbaik? Tak perlu pedulikan masa laluku yang dikejar-kejar banyak perempuan, toh sampai saat ini pun mereka tak pernah aku pedulikan. Aku, si lelaki tampan dan menawan ini memilihmu.

Keyla Agnita Anastahia, di akhir surat ini, aku ingin menuliskan satu puisi untukmu. Ah, kau belum tahu, ya? Si tampan ini sekarang memiliki hobi baru; menulis puisi. Jangan meledekku. Kota Bandung banyak mengubahku, salah satunya menjadi penyair amatir. Suatu hari, aku akan mengajakmu ke sini. Agar kau tahu bahwa malaikatpun pernah jatuh cinta di Bandung.


sore, lagu-lagu lampau, dan musim yang berganti terlalu dini
— keyla

/1/
sore itu, kau datang sebagai senandung pengiring hujan selepas kemarau. sementara aku petani renta yang tak berhenti mengucap alhamdulillah karena ladang—ladang kering kembali basah. kau masuk lalu duduk bersila, bertanya; ‘bolehkah aku menyanyikan lagu lain?’ aku menjawab dengan tanya; ‘bolehkah aku mendengarkan semua lagumu sampai suara kau berubah sengau?’

lalu kau tersenyum. lengkungan yang meluruskan. sesuatu yang membuat duri—duri meranggas di dalam dadaku. sebab terkadang cuaca begitu tega mempersilakan onak tumbuh melesak. ‘kalau begitu, dengarkanlah dengan saksama. jangan perhatikan hal lain, karena lagu ini tak pernah kuperdengarkan pada siapapun.’

kemudian dari bibirmu yang merah jambu mengalun lagu—lagu pateneras. nada melankolia yang mengiringi hujan dengan deras. penggalan larik kisah lampau yang membuatmu hampir mati lemas.

‘berhentilah menyanyikan kidung luka. aku adalah kecup yang diutus untuk melumat aduh di bibirmu.’ —kataku

/2/
sore itu, hujan turun deras sekali
andai kenanganmu badai
aku adalah benteng kokoh anti roboh

/3/
sore itu, cuaca berganti terlalu dini
hujan yang menghunjam deras dadamu
perlahan surut
ada binar mentari pagi dari matamu yang selalu malam

berhentilah menanak air mata
akan kuajari kau kesetiaan daun untuk tetap tumbuh
meski kerap digugurkan musim

Bandung, di antara gerimis yang merintik ritmis.
Al.


*Surat balasan ‘Jawaban Untuk Suratmu’ oleh Tiara Rismala Sari.
Selengkapnya

Kepada Seseorang Yang Sering Nongkrong Berlama-lama Di Dalam Kafe

Adalah hal yang menyenangkan duduk berlama-lama di dalam kafe. Menikmati sajian yang dipesan dengan bercengkrama dan bercanda dengan seseorang yang berada tepat di hadapan. Atau mungkin bagi yang sedikit kreatif dan romantis, berkunjung ke kafe adalah momen untuk mengungkapkan perasaan kangen dan cinta dengan kalimat-kalimat mesra nan picisan. Atau berbeda halnya dengan sekumpulan remaja paruh baya, —tak peduli sekumpulan lelaki atau perempuan—, berkumpul di dalam kafe boleh jadi adalah kesempatan untuk tebar pesona atau mencari bahan modusan. Atau bagi jomlo nan kesepian, berkunjung ke kafe hanyalah cara yang dilakukan untuk sekadar menghibur diri dari kesendirian dengan memanfaatkan wifi gratisan. Sudahlah, intinya, tak peduli apapun yang kau lakukan di dalam kafe hingga membuatmu bisa duduk di sana berlama-lama hingga larut malam atau bahkan seharian bukanlah hal yang baik bagi perekonomian.

Mengapa demikian?
Seperti ini...
Biar saya jelaskan dengan saksama. Perhatikanlah baik-baik. Dengan terbatasnya jumlah kursi yang terdapat di dalam sebuah kafe, hal ini tentu memengaruhi tingkat kuantitas pengunjung setiap jamnya. Apa yang terjadi bila kau duduk berlama-lama di dalam kafe? Ya, tentu saja kau sudah turut andil dalam mengurangi kesempatan orang lain untuk menjadi pengunjung kafe tersebut. Akibatnya, pengurangan jumlah pengunjung memengaruhi total pendapatan bagi kafe tersebut. Hal ini didapatkan berdasarkan asumsi bahwa banyaknya jumlah pengunjung yang datang berbanding lurus dengan peningkatan total pendapatan.

Dengan demikian, duduk berlama-lama di kafe sama saja dengan menutup rezeki bagi pengelola kafe. Apa yang terjadi kemudian apabila rezeki pengelola kafe berkurang? Tentu saja adalah nasib keberlangsungan kafe tersebut. Pengurangan total pendapatan akan berakibat pada menurunnya kemampuan kafe untuk menutupi besarnya biaya produksi. Untuk menutupi kekurangan dana pembayaran biaya produksi, kafe tersebut pada akhirnya terpaksa mengurangi jumlah pegawai demi menekan biaya pengeluaran dengan cara memberhentikan mereka dari pekerjaannya. Pemberhentian kerja seperti ini tentu saja akan menambah lagi jumlah pengangguran di Indonesia. Maka, dapat disimpulkanlah bahwa duduk berlama-lama di kafe sama saja dengan turut andil dalam menciptakan generasi pengangguran baru. Yang pada multiplier effect-nya adalah melemahkan perekonomian Indonesia.

Oleh sebab itu saya berpesan, kurangilah nongkrong berlama-lama di kafe bila tak terlalu perlu. Makanlah dengan waktu yang cukup. Kemudian bantu perbaiki perekonomian negeri ini dengan sesuatu yang lebih bermanfaat seperti menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Tertanda,
Pemilik kafe yang gulung tikar karena kekurangan pengunjung
Selengkapnya

Surat Dari Si Ganteng Untuk Perempuan Paling Bawel Sedunia

Teruntuk Keyla yang di dalam mulutnya terdapat selusin tim orkestra.

Kau tak bisa membayangkan bagaimana bentuk alisku yang bertautan saat membaca email balasanmu kemarin. Tapi tenang saja, sepusing apapun aku membaca surat (aku agak sangsi untuk menyebut serangkaian paragraf panjang nan melelahkan untuk dibaca tersebut sebagai surat ketimbang catatan khutbah jumat) itu, aku tetap tampan sebagaimana biasanya. Aku hanya heran. Kukira kebawelanmu hanya ada pada saat berbicara saja, ternyata pada tulisan juga. Bagaimana caranya mentransfer ilmu bawel dari dua bibirmu ke ruas jari-jari saat menulis surat itu, sampai-sampai kau seperti tak memberi jeda agar aku bisa bernapas saat membacanya?

Wahai Keyla The-Most-Talkative-Women-On-Earth. Jangan terlalu bawel sampai-sampai kau mengabsen daftar dosa yang kulakukan pada suratmu itu. Sebab, aku memiliki banyak kartu tentangmu. Yang pertama harus kau tahu tentang raibnya sendalmu itu, bukanlah karena aku yang menyembunyikannya di tong sampah. Melainkan sendalmu sendiri yang melakukan harakiri untuk menghindar dari penggunaan secara banal oleh perempuan teledor seperti kamu. Mereka lebih memilih mati ketimbang harus teraniaya oleh kakimu. Kebetulan saat itu aku melihatnya, maka dengan kebaikan hati yang begitu tulus dan perasaan duka yang mendalam, aku memakamkan mereka di tong sampah itu. Yang kedua, jangan berbicara seolah aku adalah seseorang yang paling berdosa sendiri. Kau harus mengingat (You should be!), betapa menyeramkannya kamu saat menyuruhku mencari pembalut dan obat sakit perut malam-malam pada saat kemah perpisahan sekolah hingga tersesat di kampung orang. Bayangkan Key, laki-laki setampan ini telah menjatuhkan harga dirinya hanya untuk membeli pembalut, malam-malam pula, di kampung orang pula. Aku sempat membayangkan bahwa mungkin setelah aku membayar harga pembalut pada penjaga warung itu, aku akan segera bunuh diri dan kelak akan ada surat kabar dengan headline, "Demi Menjaga Tingkat Kekerenannya, Seorang Anak Lelaki Tampan Ditemukan Tewas Bunuh Diri Setelah Membeli Pembalut" dengan tulisan yang besar-besar.

Keyla.
Mungkin, kau harus banyak belajar dariku. Selain tampan dan bersahaja, juga tetap cool saat menyampaikan apa-apa yang ingin kuutarakan. —seperti surat kemarin, misalnya.

Bagaimana bisa kau menyebut surat sepuitis dengan ilmu sastra tingkat tinggi yang kukirim kemarin itu sebagai lirik dangdut? Please, Keyla. Tak ada lirik dangdut sejujur tulisanku. Dan tak ada makna yang lebih dalam dari pada itu, bahkan kalimat-kalimat paling gombal dalam percakapan serial drama korea yang kaugila-gilai sekalipun.

Tapi, baiklah. Kali ini aku tidak akan memperdebatkan mana yang lebih puitis antara lirik dangdut, quote drama korea, atau suratku. Karena dibanding itu semua, tak ada yang lebih puitis dari seseorang yang sedang menyampaikan kebenaran.

Surat kemarin adalah kebenaran paling mutlak. Dan aku tak menemukan jawabanmu dari banyaknya hal yang kau sampaikan tentang diriku di dalam surat itu.

Aku menunggu jawabanmu.


Si Ganteng,
Al.


Ps: kulampirkan satu fotoku saat sedang berada di bukit Moko. Lihatlah, kau harus belajar untuk ikhlas mengakui bahwa aku memanglah tampan.


*surat balasan untuk Berhentilah Tiara Rismala Sari
Selengkapnya

Surat Untuk Seseorang Yang Sedang Patah Hati

kepada kamu yang sedang patah hati.
mari duduk di sini.
ceritakan kisahmu, mulutku terkunci.
aku tak akan menertawai apalagi menghakimi.
bagi dukamu hingga malam mengantarkan pagi.
aku akan mendengarkan dengan hati-hati.

Banyak orang yang tak begitu paham memaknai luka. Seolah kau tak boleh meratap dan bersedih sama sekali saat terluka karena cinta. Menuntut kau untuk selalu tersenyum dan tertawa betapapun sakitnya. O dear, tak apa. Abaikanlah. Mereka tak pernah tahu sesesak apa dadamu. Mereka tak pernah mengerti betapa kau pun sebenarnya ingin tetap merasa baik-baik saja. Tapi, luka tetaplah luka. Dan kesedihan selalu menemukan jalan menuju peratapan. Tak apa, menangislah. Menangislah sepuasnya hingga hilang sesak pada tiap isakmu. Bersedihlah hingga air matamu kering karena semalaman meratapi perihnya kehilangan. Seperti halnya kematian, kehilangan butuh dirayakan. Dan menangis adalah pesta terbaik untuk mengenang betapa sebuah keberadaan sangatlah membahagiakan.

Lakukanlah hal yang biasanya orang terluka lakukan. Menyendiri di antara ingar bingar keramaian. Duduk mendekap lutut kala mengingat siluet punggungnya yang menjauh pada saat meninggalkanmu. Mendengarkan lagu-lagu galau sambil sesekali bersenandung sampai tak sadar air matamu jatuh. Tak apa, lakukanlah. Lakukanlah hingga kau merasa cukup meraayakan kesedihanmu.

Bersedihlah dengan cukup. Rayakan kepedihan dengan pesta yang sederhana. Tak perlu terlalu mewah karena hanya akan menenggelamkanmu. Saat kau sudah merasa puas untuk bersedih, tata kembali hidupmu. Seka air mata dengan punggung tangan, lalu rapikanlah baju. Hirup udara perlahan kemudian embuskan. Mari antusias kembali menjalani kehidupan sebab kau selalu pantas untuk dimuliakan. Pergilah sejauh langkah menuntunmu menjauh. Bersenang-senanglah untuk memulai kebiasaan baru. Sapa kawan-kawanmu karena mereka akan selalu ada untuk berbagi kebahagiaan.

Berdamailah dengan kenangan, sebab ingatan tak perlu dilupakan. Akan terasa sulit dan menyesakkan -memang-, tapi luka akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Tak perlu takut, karena kelak waktu akan membuatmu terbiasa. Selalu ingatlah bahwa pedihnya kehilangan karena ditinggalkan adalah cara Tuhan untuk membuatmu sadar bahwa ia bukanlah seseorang yang pantas kau percaya. Yakinlah bahwa kau mandiri atas kehidupanmu untuk berbahagia.

Maka, katakanlah dengan lantang kepada ia yang telah meninggalkanmu,
"Hatiku terlalu memesona untuk hanya sekadar dibiarkan terluka. Pergi sajalah, sebab aku pun pantas berbahagia."


Karena cinta adalah ketulusan, maka merelakan adalah jalan. Mencintai dengan cara dewasa tanpa rengekan.

Selamat bersedih.
Selamat menata hati kembali.
Untuk aku yang menuliskan surat kepada diriku sendiri.
Selengkapnya

Maaf Datang Terlambat

Maaf.
Maafkan aku harus mengawali surat ini dengan kata-kata maaf. Padahal aku ingin sekali memulainya dengan sesuatu yang lebih menarik untuk dibaca, mungkin sajak-sajak atau quote-quote memorable dari tokoh-tokoh dunia yang hanya aku kenal nama dan kata-katanya saja. Kamu pernah bilang bahwa waktu adalah sesuatu yang amat berharga. Ketika sudah kehilangan, tak ada siapapun yang bisa mengembalikannya. Aku ingat sekali kapan kau mengucapkan kalimat itu kepadaku. Saat itu hujan turun dengan amat derasnya, aku dan kamu membuat sebuah rencana untuk menonton konser Iwan Fals, penyanyi yang amat kau puja sejak masa kecil itu. Aku berjanji akan menjemputmu pukul tiga sore lalu kita sama-sama berangkat ke Stadion Kridosono. Kamu bilang jangan sampai terlambat sebab itu adalah konser yang kamu tunggu-tunggu, karena jarang sekali Iwan Fals berkunjung ke kota kita. Aku mengiyakan dengan mantap.

Namun rupanya kesialan datang menimpa. Motor yang kubawa bannya bocor, terpaksa aku harus menepi untuk mencari tukang tambal ban. Kukira masalah akan selesai sampai di situ, belum sampai sepuluh menit aku memacu roda dengan kecepatan 60km/jam tiba-tiba kesialan berikutnya datang, ada sebuah tabrakan beruntun yang menyebabkan aku tak bisa bergerak ke mana-mana karena jalan yang kulalui macet total. Tanpa bisa menghindari, akhirnya aku menunggu pihak polisi lalu lintas menderek mobil-mobil tersebut. Setengah jam kemudian lalu lintas kembali normal, segera kutancap gas dengan kecepatan maksimal agar aku bisa sampai di tempatmu menunggu. Lalu hujan turun dengan deras, aku membayangkan kamu sedang harap-harap cemas menunggu di sana. Maka, tanpa peduli pada hujan yang sudah membuatku kuyup, kulanjutkan lagi perjalanan.

Sesampainya di sana, kulihat kau sedang kedinginan. Dengan perasaan amat bersalah karena membuat kau menunggu, aku meminta maaf. Aku mendengar kau marah-marah. Tak banyak kalimat yang terdengar jelas, sebab hujan berisik sekali. Satu-satunya hal yang aku ingat adalah kalimat di atas dan wajahmu yang menangis kesal sambil melambaikan tangan memberhentikan taksi. Kau memilih pulang dan kita batal nonton konser. Sejak saat itu aku tahu, bahwa kau sama sekali tak suka keterlambatan.

Butuh waktu satu bulan agar bisa membuat marahmu mereda lalu kita bisa berteman kembali. Entah sudah berapa kali aku membujukmu supaya kita bisa bersenang-senang lagi, seperti menonton serial Sherlock Holmes dari BBC TV, karaoke hingga suara kita berdua serak, atau sekadar duduk di rooftop rumahmu sambil sesekali iseng melempari orang yang berada di bawah dengan kulit kacang. Tapi kau tetap enggan menemuiku. Hingga suatu sore kau datang ke rumahku membawa dua kotak es krim sambil berkata,
“Maaf, kemarin aku benar-benar marah. Aku sama sekali tak suka menunggu, terlebih itu konser yang selama ini aku tunggu-tunggu. Belakangan ini aku kesepian, tak ada teman yang seasik kamu. Kamu satu-satunya teman yang aku miliki.” Sejak saat itu, kita berbaikan kembali.

Menunggu memang menyebalkan, Key. Aku tahu bagaimana rasanya cemas melirik jam tangan bolak-balik melihat waktu yang terus berpacu. Tentang bagaimana rasa kesal yang memuncak di dalam kepala karena janji tak tertepati. Juga tentang bagaimana marahnya saat menyadari waktu yang kita miliki habis hanya untuk menanti sesuatu yang tak pasti.

Maka, kutulislah surat ini. Karena aku sudah teramat lelah menunggu. Dan waktu sudah terlalu jauh berpacu. Sungguh, kali ini aku tak ingin terlambat lebih banyak lagi.

Aku mencintaimu.

Al.
Selengkapnya

Hanya Merasa Rindu Saja

Kita pernah merindukan sesuatu; suasana, rasa, aroma, keadaan, pada hal apa saja yang bahkan tak pernah kita alami sebelumnya. Hanya merasakan rindu saja. Seperti sebuah lingkar harapan di dalam kepala. Kau tak pernah tahu itu apa, tapi ingin sekali meraihnya. Mengambilnya dalam angan-anganmu lalu memeluknya seperti tak ingin kehilangan. Sesuatu seperti kebahagiaan yang begitu diidam-idamkan. Hal yang sepertinya lebih baik dari segala hal yang pernah ada. Sesuatu yang sepertinya lebih baik dari yang kita rasakan sekarang.

Dari sana kita dapat memahami, bahwa ternyata rindu itu bukan hanya dirasakan pada sesuatu yang telah terjadi, sesuatu yang berada jauh, atau bahkan hal-hal yang terdapat di masa lalu saja. Namun juga sesuatu yang belum pernah ada, hal yang belum pernah terjadi. Dalam perasaan menggebu oleh perasaan rindu itu, segenggam perasaan di dalam hati begitu melonjak-lonjak dengan banyak keinginan, di antaranya adalah harapan agar hal itu dapat terwujud, bisa terjadi. Bagi beberapa orang, mereka menyebut perasaan rindu itu sebagai doa, impian, khayalan.

Maka, mari memohon bersama, dalam perasaan cemas, kukuh, dan rindu yang menggebu menjadi satu, semoga rindu-rindu itu dapat terwujud menjadi jalinan jembatan pelangi. Yang membuatmu dapat berjalan tegak dan penuh keceriaan untuk meraih segala harapan yang berada di lintasan akhirnya.
Sebagai doa yang diwujudkan Tuhan dari sekian banyak rintik rinai air mata yang jatuh saat pelan-pelan hati melafalkan dengan khusyuk; "Tuhan, aku berada di titik terendah, sementara Kau pada kemampuan tak berbatas, Maka, rengkuhlah aku setulus kasihmu. Jaga hidupku hingga berada pada satu titik terbaik dibandingkan sebelumnya."

Sebab, aku, kau, dan kita semua pernah merasakan rindu kepada keadaan yang lebih baik itu.


Selengkapnya

Rindu Masa Lalu

Dalam hidup kita kerap berpindah. Dari satu masa ke masa lain. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu rasa ke rasa lain. Dari satu suasana ke suasana yang lain. Menjalani segala hal yang terjadi dengan berbagai macam adaptasi. Mencoba menikmati semua bagaimanapun rasanya. Menjadi seseorang yang tangguh dan berbahagia karena berhasil melewati berbagai macam fase menuju dewasa. Tapi suatu ketika, -pada saat kita sudah sedemikian jauh berpindah-, kita pernah merasakan rindu pada hal-hal yang terdapat di masa lalu. Kita ingat bahwa ada hal-hal yang belum selesai di waktu itu. Segala suasana, aroma, rasa; segenggam perasaan di dalam hati yang memaksamu ingin kembali. Datang untuk sekadar merasakannya lagi.

Berharap dengan sepenuh hati, semoga ketika setibanya kembali nanti semua perasaan rindu itu tuntas dengan hadirnya suasana yang pernah kita rasakan pada masa dahulu. Tentang bagaimana nyamannya kita berada pada masa-masa itu. Namun ternyata semua itu hanya bayang-bayang semu yang ada di dalam kepalamu, sebuah asa hampa seperti tak bernama. Kau telah mundur ke belakang, tapi rasanya seperti tak kembali. Kau telah pulang, tapi tetap merasa asing di tempatmu sendiri.

Kemudian pada titik nadir kecemasanmu, akhirnya kau tahu. Ketika kelak di masa depanmu nanti kau merasa rindu akan hal-hal yang terjadi di masa lalu, yang sebenar-benarnya kau butuhkan bukanlah kembali ke masa lalu. Melainkan sekadar mengingat lagi, hal-hal apa saja yang kau jadikan alasan atas kebahagiaan itu.

Sebab, ketika kau memutuskan pergi dan berpindah pada hal yang baru, tak selamanya pulang dan kembali ke masa lalu akan menyajikan hal yang sama lagi.

Karena hidup hanya sekali, buatlah berarti.
Selengkapnya

ibu mengajariku untuk menjadi sederhana

Ibu mengajariku untuk berkelana. pergi sejauh-jauhnya dalam mencari makna. terbata mengeja setiap genap ganjil dunia. mengamati tingkah polah orang-orang asing yang kutemui. tentang cerita luar biasa yang terdapat di dalam mereka. tentang seorang perempuan tua yang suatu sore membelah senja menuju anaknya. tentang bapak tua yang tergopoh membawa beban di pundak. tentang sepasang muda yang saling mendekap lalu merentangkan pelukan. tentang yang pergi dan kembali. juga tentang sepi dan kehilangan tanpa salam perpisahan.

ibu mengajariku untuk selalu kuat melawan onak. seperih pedih apapun luka, pada akhirnya akan menjadi masa lalu juga. seperti sebuah kisah menarik yang kutemui dari seorang bapak tua pengayuh becak. tentang senyumnya yang tetap sumringah, meski kakinya berdarah-darah. 'demi anak dan ibunya, semua tak ada apa-apanya,' katanya.

ibu mengajariku untuk selalu pulang. sejauh-jauh kaki melangkah, tempat ternyaman untuk kembali adalah rumah. untuk merebahkan kepala sambil menceritakan kisah-kisah hebat yang sudah kudapatkan. menikmati sisa usia dengan kedewasaan pikir dan kerendahan hati. menjadi seorang sederhana yang mengenal siapa dirinya.

depok, 21 januari 2015
Selengkapnya

Kategori Utama