Anak Kuli

Pernah suatu hari ibu datang menemui saya dengan mata berkabut, ada titik air yang menggenang di pelupuk matanya,Selamat ulang tahun kedelapan belas Bayu, semoga sehat dan panjang umur. Jadi anak yang selalu membanggakan ibu. Maaf kalau ibu enggak bisa kasih hadiah apa-apa. Termasuk memenuhi keinginan Bayu untuk kuliah.”
Seketika saya diam, saya peluk erat ia sebagaimana rasa sayang yang tulus seorang anak kepada ibunya. “Enggak apa-apa, ibu. Terima kasih sudah merawat Bayu dengan baik. Jangan cemas, Bayu bisa berusaha untuk memenuhi keinginan Bayu untuk berkuliah.”
Ketika itu saya berikrar kepada diri sendiri, tak akan lagi membebani orang tua dengan rengekan manja seorang anak yang menginginkan sesuatu.

-------------------
Saya Bayu Oktara. Anak dari seorang buruh pabrik sepatu dan kuli cuci. Saya tak pernah malu dengan predikat ini. Menghinakan diri sendiri karena keadaan yang berbeda seperti orang lain rasanya hanya akan membuat saya seperti orang yang tak mensyukuri kehidupannya.
Ibu selalu mengajari saya, “Syukur itu sudut pandang. Hal apapun akan terasa lebih baik ketika kau mampu berpikir bahwa keadaan dirimu jauh lebih beruntung dibanding orang lain.”

Saya anak kedua dari empat bersaudara, ketiga saudara saya lelaki. Ada satu lelucon yang kerap terlontar ketika seseorang menanyakan hal yang sama terkait jumlah saudara kepada saya.
“Bayu anak ke berapa dari berapa bersaudara?”
“Anak kedua dari  empat saudara.”
“Kakak dan adikmu lelaki atau perempuan?
“Lelaki semua. Empat anak laki-laki.”
“Ah, kurang satu lagi tuh. Biar bisa jadi pandawa lima.”

Saya tak tahu maksud Tuhan memberikan aturan main kepada ayah dan ibu saya untuk merawat empat anak laki-laki. Kalau saya boleh menebak, mungkin ini salah satu cara agar kelak ayah dan ibu memiliki penjaga dan perawat yang tangguh untuk di hari tua mereka kelak. Tak pernah ada yang salah dengan ketentuan Tuhan,  bukan?

Ayah saya adalah seorang buruh pabrik sepatu. Lelaki pendiam yang lebih senang tersenyum dibanding berbincang. Lelaki yang di pundaknya terdapat beban untuk memenuhi kebutuhan enam orang. Lelaki yang setia untuk berangkat bekerja ke ibukota di hari Senin pagi lalu akan pulang pada hari Sabtu malam. Dari keluarga inilah saya tumbuh dan berkembang. Tempat pendidikan pertama yang dengan ketulusannya mengajari saya bagaimana cara bertahan hidup dengan kesabaran, rasa syukur, cinta, kasih sayang, dan ketangguhan.

Kini saya tercatat sebagai mahasiswa manajemen perbankan syariah di STEI SEBI, sebuah institusi pendidikan yang memiliki visi mencetak ekonom Islam dan praktisi bisnis syariah. Kampus yang memberikan kesempatan kepada saya untuk berkuliah secara gratis melalui beasiswa Ekspad, ekonomi syariah pembangun daerah. Lingkungan yang mendewasakan saya untuk menghadirkan Tuhan dalam setiap lekuk kehidupan.

Saya ingat pada sebuah kesempatan dalam perkuliahan seorang dosen di sela-sela aktivitas mengajarnya pernah berkata kepada para mahasiswa, “Kalian tahu betapa baiknya Tuhan kepada hidup kita? Dia tak pernah pelit untuk memberikanmu rezeki, seberapa seringpun kalian lalai. Dia tak pernah luput memberikanmu kasih sayang, seberapa seringpun kalian lupa. Dalam kemahakuasaannya, masa iya kita mau menafikan keberadaannya? Hadirkan Tuhan di dalam hatimu, maka Tuhan akan meredakan segala masalahmu. Dan suatu saat kelak, Dia akan hadiahkan surga yang mengalir sungai di bawahnya. Hanya kepada mereka yang beriman dan bertakwa.”
Ah, saya menyukai berada di lingkungan seperti ini. Ketika jauh dari keluarga, ada orang-orang yang dengan keramahannya merangkul untuk melangkah bersama. Tak ada ruang untuk bersedih, karena pada setiap tangis ada pundak untuk bercerita.

Saya berhasil membuktikan kepada ibu, ayah, dan diri saya sendiri, bahwa saya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Sebab kini, di sinilah saya berada. STEI SEBI, sebuah institusi pendidikan yang tak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tapi juga ilmu kehidupan yang mengajarkan kedewasaan dan kesahajaan. Beasiswa yang menyelamatkan cita-cita, sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan agar saya dapat menjadikan mimpi mewujud nyata.

Hari ini hari ulang tahun saya ke dua puluh. Dan saya bukan lagi si anak manja yang kerap merengek untuk meminta segala.

1 komentar:

Kategori Utama