Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Gelap.
Itu kata pertama yang terlintas di kepala saya saat selesai membaca kumcer setebal 292 halaman karya Bernard Batubara terbitan GagasMedia ini. Buku Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri memuat 15 cerita, 3 di antaranya pernah dimuat di surat kabar. Dalam buku ini, Bara banyak memainkan karakter yang tak biasa (kalau tak mau menyebutnya aneh), seperti pohon, meriam, malaikat, bahkan kuntilanak sebagai metafora dan personifikasi dari realitas sosial dan permasalahan kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita saat ini.

Hal pertama yang ingin saya sampaikan sebelum kau membaca buku ini, hilangkan prasangka bahwa Bara adalah penulis novel picisan yang kerap gombal dalam setiap tulisannya tentang cinta, sebab dalam buku kumpulan cerpen ini kau akan menemukan warna berbeda dari novel-novelnya yang pernah kau baca. (Psst... saya bahkan sempat mengumpat bangsat berkali-kali saat selesai membaca cerita yang termuat di dalamnya).

Kedua, tekan ekspektasi bahwa kau akan berbahagia saat pelan-pelan mengeja dongeng cinta yang dituliskan Bara. Sebab, kau tak akan menemukannya. Kelima belas kisah yang dituturkan secara lembut sekaligus menghentak dalam waktu lain akan membuatmu frustasi dan mau—tidak mau, suka—tidak suka, akan membuatmu mengangguk dan menyetujui sambil menggumam, “Iya. cerita ini benar dan nyata keberadaannya. Saya pernah melihatnya sendiri."

Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri merupakan representasi dari kemalangan, getir, patah hati, dendam, kesengsaraan, keputusasaan, bahkan kematian yang disebabkan cinta. Bara, —dalam karier penulisannya telah berhasil mengubah warna dan suara dalam tulisan prosanya. Lihat saja bagaimana ia membuat penggambaran tentang fenomena pelecehan seksual anak di bawah umur dan perisakan di dalam kepala Tompel, —seorang anak penderita down syndrome pada cerita Seribu Matahari untuk Ariyani, atau cerita getir tentang pemerkosaan dalam cerita Meriam Beranak. Atau membaranya dendam masa lalu pada cerita Lukisan Nyai Ontosoroh dan Menjelang Kematian Mustafa. Atau sunyi dan heningnya kesepian, penantian, dan keputusasaan dalam cerita Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah dan Seorang Perempuan di Loftus Road. Atau jika kau suka membaca cerita yang menyelipkan kejutan, sila baca cerita Nyctophilia, kisah tentang seorang pengidap obsesi terhadap gelap yang sedang menjalin hubungan tanpa komitmen dengan seorang imigran.

Dari semua penggambaran karakter dan cerita, satu judul yang paling saya suka adalah Seribu Matahari untuk Ariyani. Dengan kalimat patah-patah yang tidak lebih dari 7 kata, repetisi, dan metafora yang lugu, Bara menciptakan suasana jatuh cinta dari seorang tokoh penderita down syndrome dengan berhasil. Seolah kita sedang bermain-main untuk melihat-lihat isi kepala tompel. Di bagian ini pula saya beberapa kali mengumpat bangsat seperti yang saya bilang di awal tadi.

Pada akhirnya, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Tidak hanya untuk menikmati kisah di dalamnya, melainkan juga untuk dipelajari bagaimana cara mengembangkan ide dan topik, penokohan, juga bagaimana cara membangun alur dan plot dalam sebuah cerita pendek.

Chiao!
Kalau sudah baca bukunya, beri komentar tentang bagian cerita yang kamu suka, ya!

“kata bara, jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri. kepadamu, aku ingin bereinkarnasi berkali bergenerasi.”


3 komentar:

  1. halo mas aih ^^ aku langsung ribet nyari bukunya Bara pasca membaca postingan ini. dan tepat hari ini buku ini ada di tangan saya dan sudah dicerna kepala saya :). seperti yang mas aih bilang tentang umpatan-umpatan yang muncul pada saat akhir cerita, saya juga melakukan hal yang sama. bagian yang saya suka adalah nyanyian kuntilanak dan orang yang paling mencintaimu. Tepat menghantarkan saya bahwa apakah saya siap jatuh cinta? sebab kita tidak pernah tahu kepada siapa hati ini jatuh dan orang yang paling bisa membunuhmu adalah orang yang paling mencintaimu.
    -salam kenal saya Eky saya suka menulis dan banyak terinsipirasi dari permainan kata dan alur ceritanya mas aih. tetap menginspirasi mas ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal, Eky!
      semangat menulisnya, ya!
      Jangan kayak blog ini. Haha!

      Hapus

Kategori Utama