Perempuan yang Memeluk Bayangannya Sendiri

“Dion menamparku lagi,” katamu dengan suara serak di sudut kafe Kedai Kopi Kemang. Sepanjang yang aku lihat, lebam tercetak jelas di pipi kananmu.
“Harus berapa banyak lagi tamparan yang kau terima untuk membuatmu sadar bahwa suamimu bukan seseorang yang pantas untuk kau pertahankan?” kataku geram. Tentu aku marah dengan suamimu. Namun, tak ada yang lebih membuatku kesal selain menerima kenyataan yang berada di depan mataku saat melihatmu begitu ringkih di hadapan perasaanmu sendiri.
“Dia tak sengaja, An. Dia hanya sedang marah. Aku tahu sebenarnya dia mencintaiku."
Aku menatap matamu dengan nanar sekaligus iba.
“Cinta tahi kucing! Kalau ia benar mencintaimu, ia tak akan tega menyakitimu, Sya.”
“Iya, aku mengerti. Tapi aku juga tak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri karena tak mampu menenangkannya saat ia sedang marah, An.”
“O, come on, Sya. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Jangan menjadi pandir yang tak bisa membedakan mana cinta mana ketidakwarasan.”
“Bukan begitu, An. Aku hanya...”
Kau kembali menangis. Kali ini lebih terisak. Aku membiarkanmu larut dalam kesedihanmu sendiri. Tak ingin lagi memberi sesi ceramah yang sudah kulakukan berulang kali tapi tak pernah kau terima dengan akal sehatmu.

Benar kata Bagus Netral, cinta itu memang gila. Bisa-bisanya cinta merenggut kewarasanmu.

Ah, Syakila. Perempuan idolaku sepanjang masa, yang kecantikannya saja membuatku gugup, bisa-bisanya menjadi buta untuk melihat kebahagiaannya sendiri. Kalau saja kau tahu, Sya. Di depan matamu, nih, ada seseorang yang sedari dulu ingin kau tatap sebagai pemilik hati yang pantas kau cintai. Seseorang yang tak pernah absen untuk datang saat kau minta, meski permasalahan yang kau sampaikan itu-itu saja. Seseorang yang hadir untuk menyeka air matamu, membantumu menghapus kesedihan teramat yang diciptakan oleh lelaki yang katanya kau cintai. Hey, andai kau mau sedikit saja membuka matamu lebar-lebar, Sya, lalu memberikanku kesempatan untuk kau tatap sebagai seseorang yang kau cintai, mungkin kau tak perlu merasakan perih pedih seperti ini. Boro-boro membuatmu lebam dan membiru, untuk melihatmu menangis saja rasanya tak akan tega. Sebab aku akan selalu membuatmu bahagia bagaimana pun keadaannya.

”Maaf, Anita. Aku kebawa emosi. Jadi aku harus bagaimana?”

Aku gelagapan demi mendapat pertanyaanmu yang tiba-tiba memecahkan lamunanku.

“SHIT!" teriakku dalam hati.

6 komentar:

  1. Ah sampai kaget aku. Ternyata lesbi :'(

    Pantesan judulnya Perempuan yang Memeluk Bayangannya. jadi Anita itu punya masa lalu seperti Syakila, jadi dia seperti berkaca terus dia jadi empati ke si Syakila gitu ya? hihi sok tau ya aku. :p

    BalasHapus
  2. mas sya snang sma tulisanny dan tertarik buat beli bukunya. harap dibalas email sya, tq :)

    BalasHapus
  3. wah ternyata eh ternyata -_- lesbi haha bagusss mas

    BalasHapus

Kategori Utama