Lipstik

Semakin tua, ibu membeli lipstik dengan warna yang kian terang. Merah yang dulu disimpan lama sebelum dipakai, kini menempel tenang di bibirnya. Merah yang dulunya terasa heboh, sekarang hadir di tas kecilnya, berdampingan dengan kacamata baca, uang receh, dan struk belanja yang tak pernah ia buang.

Suatu kali aku bertanya.

“Kenapa sekarang lipstiknya terang-terang?”

Ibu menjawab singkat, sambil meratakan merah di bibirnya.
“Ibu mau terlihat.”

Kalimat itu tinggal. Mengendap. Membuka ingatan tentang hari-hari ketika ibu memilih berada di pinggir. Tentang langkah yang selalu disesuaikan dengan orang lain. Tentang suara yang sengaja dikecilkan agar ruangan terasa lebih lapang bagi siapa pun selain dirinya.

Lipstik itu menjadi tanda. Bahwa usia tidak selalu membawa keinginan untuk menghilang. Ada masa ketika seseorang justru ingin terasa hadir sepenuhnya. Terlihat oleh dunia, waktu, dan dirinya sendiri.

Mungkin itu cara ibu untuk berkata bahwa keberadaannya tetap layak dirayakan.

Aku sudah lama tidak melihat bibir ibu. Tapi kali itu, ada palu yang menghantam dadaku.

Dragon Ball, Isra Mi’raj, dan Shalat

Masa kecil selalu punya cara sendiri untuk tinggal lebih lama di ingatan. Bagi sebagian orang, pagi diisi suara ibu di dapur. Bagi saya, pagi adalah televisi, kartun, dan lagu pembuka yang hafal di luar kepala. Salah satunya: Dragon Ball.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru menyadari sesuatu. Ada lirik yang terdengar sederhana, tapi diam-diam terasa akrab.


“Orang pun datang dan akan kembali.
Kehidupan kan jadi satu.”


Kalimat itu bisa dibaca biasa saja. Tapi jika ditahan sebentar, maknanya pelan-pelan terbuka: semua yang datang, akan kembali. Semua yang hidup, akan pulang pada asalnya. Tentang hidup, dan tentang setelahnya.

Lirik berikutnya melangkah lebih jauh:


“Di kehidupan yang kedua,
pasti kan menjadi lebih indah.
siapakah yang dapat melaksanakan,
sekarang berusaha mewujudkannya.”



Ada keyakinan tentang kehidupan kedua. Ada janji tentang sesuatu yang lebih baik. Dan ada satu pertanyaan penting: apa yang harus dilakukan sekarang, agar kelak sampai ke sana?

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab.


“Cahaya cinta perlahan menyilaukan.
Itulah mimpi kehidupan kedua.
Mimpi itu dari mana datangnya.”


Sebuah harapan disebutkan, lalu digantung. Dari mana cahaya itu datang? Bagaimana cara mencapainya? Jawabannya muncul pelan, nyaris seperti petunjuk:


“Jawabnya ada di ujung langit.”


Ujung langit—tempat yang mustahil dijangkau manusia biasa. Dan justru di sanalah, dalam keyakinan kita, pernah terjadi sebuah perjalanan yang tidak biasa.


Perjalanan Rasulullah ﷺ dalam peristiwa Isra dan Mi’raj. Sebuah perjalanan melampaui batas manusia, bukan untuk membawa kisah, melainkan membawa perintah.


Lalu lirik itu berlanjut:


“Bila kembali dari langit,
semoga hidup kan jadi lebih baik.”


Kalimat ini terasa sederhana. Tapi kita tahu, Rasulullah ﷺ memang kembali dari langit dengan sesuatu yang mengubah hidup umatnya—shalat.


Sebuah tugas yang tidak ringan. Sebuah perintah yang harus dijaga, bukan sekali-sekali. Bukan hanya dilakukan, tapi diperjuangkan.


“Tugas yang berat dilaksanakan.
Berjuang agar lebih baik.”


Dan memang begitu adanya. Shalat bukan janji instan. Ia adalah ikhtiar yang diulang, lima kali sehari, seumur hidup. Bukan karena mudah, tapi karena penting.


Karena di sanalah, Allah meletakkan janji-Nya:


Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,
yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya…
dan mereka yang menjaga shalatnya.
Mereka itulah yang akan mewarisi,
(yaitu) surga Firdaus.
Mereka kekal di dalamnya.
(QS. Al-Mu’minun: 1–11)


Mungkin lagu itu memang hanya lagu kartun. Mungkin semua ini hanya tafsir pribadi. Tapi bagi saya, ada hal yang tetap terasa benar: tentang perjalanan, tentang kembali, dan tentang satu tugas berat yang menentukan apakah hidup—di sini dan nanti—benar-benar menjadi lebih baik.

Dan tugas itu bernama: shalat.