Lipstik

Semakin tua, ibu membeli lipstik dengan warna yang kian terang. Merah yang dulu disimpan lama sebelum dipakai, kini menempel tenang di bibirnya. Merah yang dulunya terasa heboh, sekarang hadir di tas kecilnya, berdampingan dengan kacamata baca, uang receh, dan struk belanja yang tak pernah ia buang.

Suatu kali aku bertanya.

“Kenapa sekarang lipstiknya terang-terang?”

Ibu menjawab singkat, sambil meratakan merah di bibirnya.
“Ibu mau terlihat.”

Kalimat itu tinggal. Mengendap. Membuka ingatan tentang hari-hari ketika ibu memilih berada di pinggir. Tentang langkah yang selalu disesuaikan dengan orang lain. Tentang suara yang sengaja dikecilkan agar ruangan terasa lebih lapang bagi siapa pun selain dirinya.

Lipstik itu menjadi tanda. Bahwa usia tidak selalu membawa keinginan untuk menghilang. Ada masa ketika seseorang justru ingin terasa hadir sepenuhnya. Terlihat oleh dunia, waktu, dan dirinya sendiri.

Mungkin itu cara ibu untuk berkata bahwa keberadaannya tetap layak dirayakan.

Aku sudah lama tidak melihat bibir ibu. Tapi kali itu, ada palu yang menghantam dadaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar