Akhir Kisah Kid Sang Pencuri (Parodi Anime)

Kepolisian Jepang sedang sibuk. Cemas dan gelisah. Ketar-ketir. Kesana-kemari membawa alamat palsu.  Pasalnya, ada seekor merpati putih yang berklepak-klepuk mengirimkan pesan melalui surat yang ditujukan untuk Kepolisian.



Inspektur Nakamori terlihat mupeng tegang. Sudah lama rasanya ia tak menangani aksi yang didalangi oleh Kid si Pencuri Kecil. Maka, dengan nalurinya sebagai inspektur ia lantas memberikan perintah kepada semua bawahannya.

"Baik kawan-kawan, ini saatnya bagi kita membuktikan kepada seluruh Jepang. Bahwa ini adalah aksi terakhir bagi si bocah pencuri itu. Aksi pencurian ini tak bisa dibiarkan, kita harus berhasil menangkapnya. Kita ikat dia, buka topeng yang menutupi wajahnya. Lucuti jas yang membungkus tubuhnya. Kita lihat, apakah dia memiliki bulu dada lebat seperti yang sering diteriakkan oleh para gadis seluruh Jepang. Atau sebenarnya dia hanya seorang banci salon yang frustasi karena ditinggal kekasihnya, kemudian memutuskan untuk menjadi pencuri sebagai bentuk pelampiasan kegalauannya.

Strategi kali ini tak akan rumit seperti yang selama ini kita lakukan. Kita hanya cukup medandani seorang om-om untuk menggantikan peran sebagai istri perdana menteri. Kita bekali om-om itu sebuah suntikan bius. Hingga ketika dia merasa ada seseorang yang menggrapa-grepe permata yang mengalungi lehernya, dia hanya tinggal menyuntikkan bius itu. Dan BAAAAM... si Bocah Pencuri akan kelapak-kelepek kemudian pingsan dengan busa di mulutnya..."

Seorang polisi bernama Jokomura menyela pembicaraan Inspektur Nakamori.

"Pak Nakamori, istri bapak pasti tukang masak ya?"

"Hah? Maksudmu apa Jokomura? Istriku memang pintar memasak. Lalu kenapa? Kok Anda bisa tahu?", jawab Inspektur Nakamori.

"Karena Bapak telah men-takoyaki-kan hati aku..."

Doooor!!! Sebuah peluru ditembakkan Inspektur Nakamori. Beruntung Jokomura berhasil menghindar.

*******

Kaito Kuroba sedang bersiul riang sesambil mengenakan setelan jas putih kesayangannya.

"Yoyoyoyo, pada hari ini aku kembali mencuri. Mencuri zamrud istimewa milik istri pak menteri. Perdana menteri Jepang yang sangat sipit matanya. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk. Tik tak tik tuk. Tuk tik tak tik tuk suara bersin kuda..." ♫♪♫♫♪♫

Suara cempreng Kid si pencuri kecil menggema di rumah miliknya. Entah sudah ada berapa barang yang terbang di belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Ban bekas, kaleng susu formula, kucing, kerbau. Semua dilempar oleh tetangga yang merasa terusik mendengar suara Kaito.

Kid telah bersiap dengan kostum khasnya. Maka segeralah ia meluncur dengan odong-odong kesayangannya.

Kaito Kid, si Pemodus Kecil
******
Sementara, Pak Inspektur Nakamori sedang mendandani Jokomura agar terlihat macho seperti Istri Perdana Menteri. Tak lupa ia kalungkan juga Permata Zamrud imitasi yang ia beli di Pasar Senen semasa liburan di Indonesia tiga bulan yang lalu.

"Ternyata, ada gunanya juga beli permata zamrud imitasi di Indonesia. Aku bisa menggunakan ini untuk mengelabui si bocah pencuri. Indonesia itu negara yang sangat kreatif. Semua hal bisa dijadikan bajakannya. Bahkan barang yang baru akan dirilis atau diiklankan saja, orang Indonesia sudah bisa memiliki bajakannya. Salut...."

"Pak Nakamori, apa saya sudah terlihat kece? Bagaimana wajah saya? Sudahkan menyerupai Anisa Chibi?", Jokumura kembali menyela ucapan inspektur.

"Diam saja kau Jokomura, jangan banyak bertanya. Jangan banyak bergerak. Nanti saya kesulitan mendandanimu..."

******

Saat yang dinantikan pun akhirnya tiba. TV Nichiuri menyiarkan aksi Kid The Phantom Thief secara ltajam dan terpercaya live dan eksklusif ke seantero Jepang. Para gadis memenuhi jalanan demi dapat melihat pujaannya menjalankan aksi pencuriannya.

"AAAAA.... KID!!!!! AKU PADAMUUUUU!!! BELAHLAH DADAKU!!!! ADA NAMAMU DI DALAMNYA!!! AAAAA Brbrbrbrrbbbb...", seorang gadis berteriak, kemudian disumpal mulutnya dengan sendal oleh gadis-gadis yang lain.

Tiba-tiba semua lampu padam.
Gemerlap kota menjadi gelap seketika.
Suara gemuruh hadir di tengah-tengah kota.
Semua orang yang ada seketika bungkam dan bergeming.

"Dengan kekuatan bulan. Aku datang menghukummu!!!"

Tanpa disadari, ada sesosok pemuda tengah berdiri di puncak sebuah gedung berlatarkan cahaya bulan.

Kid The Phantom Thief
"AAAAA... DEMI APA GUE NGELIAT SI GANTENG KID... AAAAA!!!!!", seluruh gadis berteriak histeris.


Jokomura yang bertugas menjadi istri perdana menteri, kemudian didorong oleh Inspektur Nakamori untuk naik mobil bersama Perdana Menteri menuju jalan kota.

Sejurus kemudian, Kid sekejap terbang menghilang. Membaur bersama massa yang riuh ricuh meneriakkan nama Kid. Ia berlari menuju mobil yang ditumpangi Perdana Menteri.

"Huh, sudah kubilang jaga baik-baik. Kenapa saat ini tidak ada penjagaan? Istri Perdana Menteri dibiarkan begitu saja tanpa pengawalan. Pasti ada suatu strategi yang belum kuketahui. Lihat saja, semua pasti dapat kuatasi dengan mudah..", ucap Kid di dalam hatinya.

Kid semakin dekat dengan mobil. Mobil terhenti karena adanya kemacetan akibat membludaknya massa yang ingin menyaksikan Kid beraksi.

"Pak Menteri, sebaiknya kita turun saja. Macetnya parah, kita tidak bisa lewat.  Lebih baik kita berjalan diantara membludaknya massa. Tentu hal ini akan menyulitkan Kid untuk mencuri kalung zamrud milik nyonya..", ucap supir.

"Baiklah, kita turun saja. Sekalian saya ingin menikmati angin malam. Sudah lama rasanya saya tidak merasakan masuk angin...", ucap Perdana Menteri mengiyakan.

Mereka pun turun dari mobil dan membaur bersama massa yang memenuhi jalanan kota. Tanpa mereka sadari ada sosok yang mengikuti mereka, ya Kid si Pencuri Kecil.

Kid berjalan mengikuti langkah mereka, menyamar menjadi tukang ojeg yang biasa mangkal di Perempatan Tokyo. Tak memerlukan waktu banyak, Kid sudah berjajar disamping istri perdana menteri. Ia mulai melakukan aksi pencuriannya. Oleh sebab tangannya yang telah terlatih, Kid bisa dengan mudah menyusup di pakaian istri Perdana Menteri atau dalam hal ini Jokomura. Ia mulai grapa-grepe mencari Zamrud yang dikalungkan di leher istri Perdana Menteri.

Jokomura, merasa ada yang janggal di tubuhnya. Ia merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh lembut puting dadanya. Seketika Jokomura terdiam dan menoleh ke arah samping.

"Ayo, mau ngapain? Grapa grepe seenaknya tanpa izin. Rasakan nih kecup basah dariku...", 

Akibat rasa kaget melihat wajah Jokomura yang begitu semrawutnya, Kid si pencuri tak sempat menghindar. Jokomura berhasil mengecup basah pipi mulus Kid. Seketika Kid mimisan, mulutnya berbusa, kemudian pingsan, bahkan sebelum Jokomura sempat menyuntikkan obat bius yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Kid tumbang, diikat, kemudian diarak keliling kampung. Ternyata, bulu dada Kid si Pencuri Kecil tak selebat seperti apa yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang.


- Tamat -



PS:
Posting kali ini diikutsertakan dalam kontes Give Away yang diselenggarakan oleh Ca Ya.
Bagi yang ingin ikut serta, dapat melihat ketentuannya (disini).


AYO IKUTAN! Ada Hadiah Lho~


Selengkapnya

Secawan Kopi, Secangkir Semangat


Seringkali, aku menyiapkan secangkir kopi sebelum mengawali hari dan memulai kegiatan. Secangkir kopi hitam yang kental dan pahit. Aku sangat menyukai ketika kerongkonganku dibangkitkan oleh pahitnya kopi kental, kepala seakan terlonjat bangun. Mencerahkan pikiran yang penuh kepenatan. Menyegarkan jiwa yang hampa dan dahaga.



Suatu ketika aku berpikir, 'Hidupku pun memang butuh secangkir kopi. Ia butuh pengalaman pahit. Ia harus melewati kegetiran hidup, agar aku bisa mempertimbangkannya lebih matang dan mendalam, agar aku bisa mengambil langkah dan nilai baru. Hanya dengan itu aku bisa menjadi lebih gigih dan kuat dari yang dahulu. 



Karena itu sahabat, berhentilah mengeluh ketika menghadapi berbagai jenis kepahitan dalam hidup. Jadikan kepahitan itu sebagai tepung kopi yang unggul, yang dimasak oleh pikiran yang matang untuk menghasilkan secangkir kopi kental. Pahit di awal, tetapi aahh.... begitu nikmat di akhir.
Selengkapnya

50 Hari Pemuda Membangun Bangsa #2

Jakarta, 20 Mei 2012

Aku masih menguap ketika kumandang subuh menggema di langit Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta. Mata merah berair, -sisa begadang semalam, perang gengsi di lapangan hijau Piala Kampiun Eropa selalu menjadi alasan tersendiri bagi para penggila bola untuk menahan kantuk yang menggelayut manja di pelupuk mata. Tapi, aku tidak akan bercerita tentang kehebatan dan ketenangan Chelsea menahan gempuran bertubi dari penyerang Bayern Muenchen. Atau tentang kecerdikan  Roberto Di Matteo meracik dan meramu pemain Chelsea menjadi sedemikian rupa hingga dapat memegang thropi sebagai tim juara. Biarkan saja itu menjadi sebuah pelajaran, bahwa kegigihan dan kerja keras akan selalu berakhir kebahagiaan.


Hari ini hari istimewa. Rangkaian kegiatan Sosial Mapping Program Pengentasan Kemiskinan DKI yang dilaksanakan oleh Relawan BUMN Peduli, kini memasuki tahap implementasi. Program yang kuajukan adalah RT-Ku Hijau, pembangunan sarana MCK, peremajaan saluran air dan pemberdayaan perempuan usia produktif, dalam hal ini adalah Unit Usaha Kriya Manik-manik dan sulam pita.

Menyampaikan laporan pemetaan sosial dihadapan Bapak Dahlan Iskan, Menteri BUMN





Rangkaian kegiatan Social Mapping satu bulan lalu

Rangkaian kegiatan aksi pertama adalah RT-Ku Hijau. Sederhana saja, warga diarahkan untuk melakukan kerja bakti guna membersihkan dan membenahi lingkungan tempat tinggalnya. Selokan, lapangan tempat anak-anak bermain bola, jembatan, jalan gang, semua tak luput untuk menjadi target sasaran pembersihan.

Aku menyebutnya persaudaraan
Ingatkah?
Kita selalu beranggapan, bahwa keramahan, kekeluargaan, kekerabatan masyarakat Indonesia telah pupus dan hampir sirna. Kita menyalahkan perkembangan zaman sebagai sumber utama permasalahan. Sementara kita melupakan bahwa kita adalah bagian dari mereka. Maka, sebenarnya sederhana saja. Jangan terlalu lama membiarkan diri terkukung prasangka, menutup mata, menyalahkan keadaan. Cara terbaik untuk dapat memperbaiki adalah memulai dari diri sendiri.

Kegiatan ini baru langkah pertama dari langkah-langkah kebaikan selanjutnya. Semoga dengan Kasih dan SayangNya Tuhan selalu memberikan kemudahan bagi para hambaNya yang tak pernah letih menebar kebaikan untuk sesama.


"Selamat Hari Kebangkitan Nasional.
Dengan semangat kesetia-kawanan nasional, mari bangkitkan gelora semangat tuk mengubah wajah Indonesia. Menjadi jaya, bermartabat dan sejahtera. Semoga Indonesia bangkit dengan segala ke-luarbisaan-nya.

Aamiin



Semoga, senyum keceriaan tetap terpancar di segurat wajah mereka



ps :
Yang belum membaca catatan sebelumnya, bisa dilihat di :

Selengkapnya

Surat Untuk Raja Siang


Matahari. 
Kuharap kau baik baik saja. Masih setia menerangi alam raya. Memberi pesona benderang bagi dunia.  Saat aku menulis surat ini, kau sedang merona terang dengan cahaya kuning keemasan. 


Kau tahu? Terkadang pesonamu yang terlampau sombong kau tunjukkan itu membuat bola mataku perih karena silau (Hehehe). Tapi, setelah kupikir mungkin kesombongan itu memang pantas kau tunjukkan. Karena memang hanya engkaulah satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling terang benderang. Hanya satu. Tak ada dua. 
Dalam lamunan terkadang aku berpikir, bagaimana rupa dunia bila kau tak ada. 
Gelap. Pekat. Lembap. Berlumut. Murung. Sunyi. Dingin. 
Baru sekedar memikirkannya saja aku sampai merinding. 

Mentari. 
Akhir-akhir ini banyak dari kaumku yang mencemoohmu. Menganggapmu tak berperasaan. Karena memberi panas yang begitu menyengat dan membakar badan. Bahkan, ada yang sampai gila mengumpatmu, melaknat dengan kalimat-kalimat kasar. Melampiaskan emosi yang selama ini membuat mereka gusar. 

Ah. 
Sebenarnya siapakah yang tak berperasaan? 
Ketika banyak dari mereka yang seenaknya membakar hutan, memberangus habis pepohonan hanya sekedar untuk dijadikan berkubik-kubik bahan bangunan. 

Siapakah yang tak berperasaan?
Ketika banyak dari mereka yang dengan gampang mengepulkan asap kendaraan, melempar dan membuang limbah sembarangan, menggusur lahan hijau untuk dijadikan pemukiman. 


Matahari. 
Aku muak. 
Aku kesal dengan sikap mereka dalam menghormati alam. Menganggap diri paling hebat dan kuat. Sehingga dengan jahat mereka memperkosa alam agar bermanfaat. Apa tak sedikitpun mereka sadar akan hal yang mereka perbuat? Bahwa dengan kekejian yang mereka lakukan membuat alam semakin berkarat. 

Mentari. 
Aku tahu, mungkin kau merasakan kesumat yang sama sepertiku. Sehingga kau ingin mengingatkan mereka dengan memberi panas yang menyengat. Aku tak mau menyalahkan sikapmu. Karena bagiku, memang seperti itulah seharusnya kau bersikap. Karena sejatinya, kawan yang baik adalah mereka yang mau mengoreksi bukan mereka yang sering memuji. Begitu 'kan? 

Matahari. 
Kuharap kau tak terlampau marah sehingga sampai ingin membuat dunia semakin merah. 

Aku sangat mengharapkan kesabaranmu. Cukuplah engkau memberikan panas hanya sampai sebatas saat ini. 

Kau tahu kenapa? Karena kini aku mulai gembira. Ada sebagian lagi dari mereka yang mulai menyadari kesalahannya. Mereka mulai mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian alam raya. Menanam kembali bibit pepohonan, menciptakan industri ramah lingkungan, menjaga kebersihan dan keindahan. 

Aku sangat mengharapkan kesabaranmu, mentari. Biarkan mereka memperbaiki alam kembali. Beri mereka waktu untuk mengembalikan senyummu lagi. Agar kau bisa menahan panasmu agar tak terlalu berapi. 

Raja siang. 
Maafkan sikap mereka yang garang. 
Kuharap kau mau kembali riang. 

Jaga pesonamu baik-baik. 
Tetaplah bersinar dengan cantik. 




Aku yang menanti senyummu kembali. 
Mas Aih



save our earth, guys :)

Selengkapnya

Pantun Tiga Jejaka



Awal mulanya cuma iseng, bikin status di malam pekat. Kirain gak ada yang mudeng, ternyata ada dua orang ikut terlibat. (Oke, ini pantun, kalo dibaca bukan dengan nada pantun, gue mohon dibaca sekali lagi, muehehe)

Seperti diawal yang tadi gue bilang. Jadi, malem kemaren gue bikin status di facebook.

Statusnya begini :




"Aku malam deras hujan, tertatih menyusur jalan, menujumu menuntaskan rindu..."

Nah, gak lama berselang ada temen gue, namanya Ujay eh aduh sory maksudnya U-z-a-y. (pake jet ya bukan je, kalo salah nanti ditoyor Ujay, eh Uzay. Aduh salah terus). Dia komen di status gue. Komennya gini :

"Rasa kantuk menggoda mata, dingin malam gigilkan raga.
rinduku belum tuntas dinda, karena kamu sebatas khayal semata..."


Sebagai Kuli Panggul Kata, gue gak mau kalah dong. Nah, gue baleslah lagi komen dia. Ini balesan gue.


"pedih tertatih lirih. dalam damba yang merintih perih..."

Mungkin si Uzay ini (ye bener sekarang *sujud syukur*) berpikiran yang sama, gak mau kalah juga. Dia baleslah lagi komennya.


"perih membalut luka, semakin besar semakin menganga.
lirih semakin jelas, ketika hati tergores keras..."


Eh tiba-tiba ada sesosok buto ijo Bang Doni (temen juga) yang nimbrung untuk ikut ngasih komen.


"alam luka tersimpan rindu untuk kembali memeluk dan bersamamu.
lihat malam kian tersingkir, dalam peraduan rembulan..."


Gue bales lagi komennya Bang Doni ini.


"bulan meredup tersapu kabut, kelam pudar hilang cahaya.
abang kuyup dalam kalut, karena adek tak ada kabarnya..."

Entah karena keasyikan manggul kata atau karena otak keram menahan lapar, akhirnya gue malah jadi bikin pantun kayak begitu. Tahu kan apa pantun itu? Mmm.. Pantun itu sopan, ramah, gak songong sama yang tuaan. (Oke, itu santun) #Plak


Menurut wikipedia, dan ingatan pendidikan gue semasa SD (padahal cuma kopi paste dari om wikiped semua). "Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut..."


Karena kita malah keasyikan buat bales-balesan komentar, akhirnya langit malem sabtu yang sendu itu dipenuhi oleh kata-kata pantun bikinan kita. Berikut ini gue tuliskan karya pantun bikinan kita semaleman yang kita tulis di kolom komen status gue itu. Cekibrem :D
______________________________
[malam]
----------

bintang menangis ditemani rembulan, aku menatap malam dengan roko sebatang.
biarkan rindu ini aku simpan, agar adek selalu terkenang.

malam hitam, bintang kelabu.
dalam diam, tersimpan rindu.

rembulan tertutup awan berarak, gemerlap bintang ikut sembunyi.
meski rindu terhalang jarak, hati dinda ada disini.

awan mendung berarak riang. tetsan hujan basahi bumi.
nama dinda selalu terngiang, dalam hati yang sepi ini.

malam hitam bertabur bintang. sinar benderang terangi sepi.
jangan ragukan cinta abang. karena adek selalu di hati.

sendu sendiri berteman sunyi, mungkin jangkrik pun sudah tertidur.
meski dinda tak ada disini, adanya rindu abang bersyukur.

malam pucat semakin pengap. biarlah menghilang tanpa cacat.
dalam pekat dan gelap. kau dekaplah abang lebih erat.

______


[pagi]
---------

terang mentari bangkitkan jiwa, kicau kenari hiasi pagi.
biarkan kanda memuja adinda, bersama hari yang terus berganti.

udara pagi begitu sejuk, mentari pagi memberi hangat.
senyummu dinda membuatku takjub, jalani hari lebih semangat

detak waktu kian memburu, menghujam perih dalam hati.
dinda engkau seperti hantu, yang bersemayam dalam hati.

kicau kutilang sambut semesta, tanda pagi telah kembali.
hati riang tak terkira, saat senyum adek hiasi hari.

pelan belai angin menggoda hati, daun jati beradu mesra.
janganlah adek pergi, karena hati kanda tak kuat merana.

hati berseri melihat wajahmu, dindaku sayang kau telah datang.
segera abang melamarmu, agar rasa ini semakin melayang.

akad terikrar sudah, izin berbalas restu bunda.
dinda sayang mari melangkah, ke dunia baru memadu cinta.

sepasang merpati terbang tinggi, menari diatas pelangi.
inilah janji dari hati, selalu terjaga sampai mati.

sajadah putih terhampar indah. tutupi hijau rumput pagi.
bersama dinda semua begitu indah, jalani cerita hidup ini.

merpati terbang menuju angkasa, tinggi melambung tiada duanya.
hati abang siapa yang punya. adalah adek satu jawabnya.

permadani merah hiasi lantai, rerumput rapi menghias taman.
aduhai dinda kau begitu lihai, membuat pesonamu semakin menawan.

icau kenari awali pagi, bersama embun dinginkan rasa.
abang tak ingin berbagi, hanya dinda satu untuk selamanya.

permadani terbentang diatas rerumputan, sambut datangnya sang putri mimpi.
satu hal yang abang nantikan, pernikahan kita di altar suci.


______________
ps :
Untuk para wanita, kalo kelepek-kelepek dan jadi ngerasa suka sama kita bertiga, bisa kok menghubungi kita ke nomor di bawah ini.


Karena rezeki kami, ada di pantat Anda.

Semoga seni pantun tidak hilang termakan zaman.

Yang muda, yok kita lestarikan budaya bangsa.
Salah satunya dengan menjaga seni berpantun ini :)

Selengkapnya

Untuk Indah Tak Harus Selalu Mewah

Si Budi kecil.
Kuyup menggigil.
Menahan dingin tanpa jas hujan.
Di simpang jalan.
Tugu pancoran.


Kita pernah bercerita tentang tingkah polah sekumpulan anak remaja. Sebuah kisah tentang seberapa dekil dan kumalnya pakaian mereka. Berlari-lari kecil di tepian trotoar lampu merah. Bertepak-tepuk dengan kedua tangannya yang lapuk. Menyumbangkan sebait dua bait lagu. Tak muluk-muluk, hanya agar mendapat sekeping dua keping koin rupiah. Untuk makan, minum, atau untuk sekedar membeli permen untuk sang adik yang menangis payah.






Juga cerita lama tentang arogansi seorang Pria dengan setelan jas hitam. Membuang muka, berwajah masam. Acuh tak peduli meski bocah-bocah troatoar sudah hampir serak bernyanyi. Sampah hidup! Begitu lisannya menyulut. Seolah semua berbeda, bukan bagian dari hidupnya. Tak ada arti, tak memberi makna apa-apa.







Atau tentang kisah mulia kepedulian segelintir pemudi-pemuda. Mereka datang dengan tangan terbuka. Merangkul dan mendekap bocah-bocah trotoar. Tak ada pembeda atas kehidupan mereka yang liar. Mereka manusia yang juga butuh keceriaan, kebahagiaan atas anugerah kehidupan. Menginginkan kedamaian atas kelayakan hidup yang termarjinalkan.


Berbagi Kebahagiaan dengan anak jalanan Buah Batu









Menyanyi dan menari bersama. Tersenyum, tertawa, bergerak dan berlari menjemput mimpi. Saling bergenggaman tangan, melangkah bersama hadapi setiap tantangan. Tak ada lagi perbedaan ketika ketulusan berbagi menjadi pengikat persaudaraan.


Galih (Bisma) sebagai instruktur permainan




  



Maka, mari kita belajar memuliakan mereka
Memberi atap bagi mereka yang meratap
Membasuh setiap nyeri bagi yang bergidik ngeri
Kita rangkul mereka yang menangis
 Menempatkan yang satu di sebelah kiri
Dan menempatkan yang lainnya di sebelah kanan
Kita dekap dengan pelukan keadilan

-------------------------------------------
"Tangan kita, mungkin terlalu kecil untuk dapat mengubah semua.
Namun berdoalah, semoga melalui TanganNya, Tuhan kan membantu setiap hambanya yang tak henti menebar benih kebaikan untuk sesama..."


Dari sebuah gerak kepedulian :




Source :
- Video from Youtube
- Photo from Facebook
Selengkapnya

Barang Mahal Itu Bernama Kejujuran

“If you want to do the right thing, let’s do the right way….”

Sob, pernah nggak ngeluarin duit 75.000 untuk bayar tiket nonton bola padahal harga tiketnya cuma 30.000, hanya agar kita bisa dapet  tiket untuk nonton?
Pernah nggak minta uang ke orang tua untuk bayar buku paket sekolah dengan nilai harga yang udah dilebih-lebihkan?
Pernah nggak make uang bayaran sekolah/kuliah terus akhirnya kelabakan dan ngeganti dengan cara minjem dulu sama temen?
Pernah nggak mengeluarkan sejumlah uang untuk dapat lolos ujian tertentu? Ujian SIM misalnya?
Pernah nggak ngasih sesuatu ke seseorang agar dipermudah untuk melakukan suatu kegiatan?
Atau, pernah nggak mengambil hak orang lain secara diam-diam dan tanpa izin?

Nggak perlu dijawab.
Sederhana aja. Kita seringkali teriak, marah-marah, ngomel disana-sini. cas-cis-cus, komentar juga mengkritik pedas setiap kali melihat tayangan berita yang menginformasikan perkara korupsi. Sementara, kita nggak menyadari bahwa sebenarnya diri kita sendirilah yang membudayakan perilaku korupsi itu.

Segala hal besar diawali dari yang kecil, sob.
Gombal kalau kita berkata benci terhadap korupsi, sementara kita sendiri malah merawat sifat-sifat yang menyertainya; bohong, tamak, curang, licik, picik. Kalau kita dari sekarang aja udah ngerawat yang kecil itu dengan sangat baik, maka jangan salahkan bila nanti korupsi akan menjadi budaya yang apik.

Ngak usah jauh-jauh berpikir untuk bisa mengubah bangsa ini menjadi lebih baik. Masih ada satu orang yang lebih perlu untuk diperbaiki. Seseorang yang apabila ia baik, maka seluruh kehidupan yang menyertainya akan menjadi baik. Tak hanya untuk kebaikan hidupnya namun juga untuk kebaikan seluruh kehidupan yang menyertainya. Seseorang yang apabila ia telah baik, maka ia akan sangat mampu memperbaiki bangsanya.

Seseorang itu bernama diri kita sendiri.

“Selamat hari pendidikan nasional. Bahwa pendidikan tak melulu tentang aktivitas civika akademika. Namun juga pembelajaran akan karakter, kebaikan sebuah jati diri…”
Selengkapnya

Kesetiaan Sempurna (Sebuah Cerita Di Balik Beasiswa)

"Bersabarlah dalam diam. Percayalah tulang rusuk tak akan pernah tertukar..."

Aku masih terdiam, dari rindu yang perlahan menggerogoti  asaku. Bukan aku tak lagi percaya akan teguhnya kesetiaan. Hanya bagiku kau seperti angin, Shafa. Bersemilir, hilir mudik kearahku, memberikan aku kesejukan. Tapi kau tidak benar-benar mampu kugapai. Entah kapan dan dengan cara apa aku sanggup menggapainya. Engau memang  angin, menampar dengan lembut, datang dengan rasa tak sama diwaktu yang berlainan. Namun kau setia seperti angin yang menemani iringan hujan. Dikala aku sedih, dikala aku kesepian.

Hari ini engkau tampak berbeda Shafa, ada sosok keibuan dari balik bening bola matamu. Lembut dibalik perhatianmu yang berbeda. Ya, sudah tiga hari aku terbaring sakit, kau datang membuatkanku semangkuk bubur agar selera makan ku kembali. 

“Ayo dimakan dulu buburnya, biar cepat sehat dasar manja, baru sakit gini saja udah payah” ledek mu diselingi tawa kecil melihat betapa tak berdayanya diriku.

Aku hanya bisa tersenyum, cukup hati ini saja yang tahu, betapa dalam aku mengagumimu dan bersyukur saat ini kau ada dihadapanku.

“Aaaaaa....aaam” satu sendok bubur pindah ke mulutku. Aku biarkan lebih lama sendok itu di mulutku, Aduh rasanya aku seperti anak kecil, tapi sungguh aku menyukainya.

“Wafiii, jangan becanda deeeh” gerutu lucumu, lagi-lagi itu membuatku tersenyum.

“Shafa, Sebenarnya status hubungan kita apa?? ” seketika kau tertunduk.

“Masih saja ngebahas ini hmm... memang status itu penting yah??” ia meletakan sendok di mangkuk bubur dan mulai mengaduk-ngaduknya.

“Aku hanya takut suatu saat ada batu sandungan di hubungan ini, dan salah satu diantara kita beralih dengan alasan tak ada status. Itu yang aku khawatirkan Shafa” lidah ku terasa semakin pahit setelah berucap itu. Ya aku hanya takut kehilanganmu Shafa. Hanya itu.

“Sebelumnya kita sudah bahas ini bukan?? Memang diantara kita tak ada status, tapi kita punya komitmen yang sampai saat ini masih aku jaga.  Sudahlah yang terpenting selesaikan dulu beasiswa ini untuk tiga tahun kedepan” katamu sudah terlihat bete.

Ya aku masih pegang teguh tentang kesetiaanmu yang sempurna itu. Nyatanya kamu memang selalu ada saat aku tertatih. Dan saat itu lah aku sudah  merasa benar-benar memilikimu.
******


“Wafi, ngga bosen lo ngejomblo terus??”

“Eh Waf, ada yang titip salam tadi sama gw, cieeee Wafiiii ada yang naksir juga ding!”

Ya itu hanya sekelumit bisik-bisik kicauan yang masuk ke telingaku. Hmph.. aku hanya tanggapi dengan peluhan hampa. Dilema, mungkin itu yang lebih tepat. Seakan aku ingin berlari, memetik bunga-bunga yang bermekaran di taman tapi disisi lain aku takut kehilangan bunga yang ada di pekarangan rumahku yang sudah lama aku jaga.

Lagi pula sejauh apapun aku berlari, bayanganmu seolah mengikuti. Kesetiaanmu seperti kendali untukku. Saat aku lepas aku akan kehilangan arah. Kadang aku iri melihat keteguhanmu Shafa, meski tak dipungkiri begitu banyak yang mengagumimu, bukan hanya aku. Dan keteguhan hatimu itu yang membuat aku selalu kembali.

Sudah genap satu tahun, aku dengannya saling memotivasi untuk satu tujuan. Rasa decak kagum semakin bertambah, sampai ada benih-benih rindu saat berjauhan. Aku tahu ini belum saatnya untuk saling tunjukan, karena perjuanganku dengannya masih panjang. Pernah aku memberi isyarat dalam bentuk puisi atas kegundahanku ini di sebuah jejaring sosial. Tak lama sebuah peringatan keras dari mereka langsung ditujukan kepada ku. Sebegitu ada jarak kah hubungan ini?

Dan lagi-lagi kamu yang menyadarkan aku Shafa,

“Waf, kamu lihat orang yang sedang menunggu hujan itu??” katanya di perjalanan pulang.

“Iyaaaah, ia terlihat begitu resah menunggu” jawabku seadanya, tapi sejujurnya itulah yang sedang aku rasakan.

“Ngga hanya itu, coba kamu perhatikan yang lain. Orang itu mengaku suka hujan, aku suka hujan- aku suka hujan, tapi lihat saat hujannya datang ia sendiri membentangkan payungnya agar tidak kehujanan. Lucu yah??”

“Iya siapa sih yang mau kehujanan. Terus??” tanya ku sedikit tak mengerti.

Shafa tersenyum kearahku “Mereka seperti seseorang yang mengaku mencintai, tapi mereka tidak mau berkorban”

Nyatanya kamu memang jauh lebih dewasa Shafa menghadapi situasi ini.  

******
Setahun yang lalu 

“Hei Waf, kamu jadi nerusin kuliah??”

“Belum tau nih, uangnya masih belum cukup hehe...”

“Udaaah, ikut ke kampus yang kemarin aku bilang saja, lumayan kan dapet beasiswa, meskipun syaratnya bisa dibilang aneh haha...”

“Emang apa syaratnya?? Kok aneh??” Wafi penasaran.

“Baca saja sendiri, nih!” Shafa menyodorkan brosur sebuah Universitas.

“Selama masa perkuliahan, dilarang untuk pacaran. WOW!” Wafi selesai membaca, sambil garuk-garuk kepala. “Kamu sendiri siap Shafa??”

“Siaaaap, untuk masa depan hehe....” jawabnya yakin.

“Oke deh aku ikut kamu...”


Ps : 
Ini adalah cerita pendek yang ditulis oleh Fauzi a.k.a Uzay, sesaat setelah ia mengetahui kisah cintaku.
Semoga komitmen dan kesetiaan ini tetap terjaga. Hingga semua kan indah pada waktunya.

(Bedewei, makasih bang ujay buat ceritanya. Indah sekali)
Selengkapnya

Kategori Utama